Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah inovasi pembelajaran. Dalam rentang waktu tersebut, banyak hal berubah: cara murid belajar, perkembangan teknologi, tuntutan kompetensi, hingga cara guru memaknai pembelajaran. Namun, ada satu hal yang justru semakin terasa relevan: pembelajaran sejarah seharusnya tidak berhenti pada membuat murid mengetahui masa lalu, tetapi membantu mereka membangun kesadaran, menemukan makna, dan menikmati proses belajar.
Gagasan itulah yang sejak awal menjadi napas AKSARA di SMA Negeri 1 Andong.
AKSARA merupakan inovasi pembelajaran yang dikembangkan oleh Ibu Anis Nurohmah, S.Pd., M.Pd. dengan tujuan membawa budaya riset ke ruang kelas sejarah. AKSARA bukan sekadar singkatan, tetapi merepresentasikan enam karakter pembelajaran: Aktif, Kontekstual, Sejarah Lokal, Autentik, Reflektif, dan Antisipatif.
Enam karakter tersebut menjadi pijakan untuk mengubah posisi murid. Mereka tidak lagi hanya ditempatkan sebagai penerima informasi sejarah, tetapi sebagai pembelajar yang aktif mencari, menguji, membangun, dan merefleksikan pengetahuan.
Menariknya, setelah enam tahun berjalan, ternyata proses AKSARA memiliki irisan yang kuat dengan gagasan Pembelajaran Mendalam. Apa yang dahulu dilakukan sebagai upaya membangun budaya riset, kini semakin jelas relevansinya dengan pembelajaran yang menempatkan pengalaman belajar murid sebagai sesuatu yang berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan.
Berkesadaran dan Bermakna
Pembelajaran menjadi lebih berkesadaran ketika murid memahami mengapa mereka belajar dan untuk apa sebuah aktivitas dilakukan. Dalam AKSARA, penelitian sejarah tidak berhenti pada tugas. Murid belajar dari lingkungan terdekat: stasiun, pasar, sekolah, bangunan lama, arsip keluarga, foto lawas, hingga cerita masyarakat.
Ketika murid menyadari bahwa tempat yang setiap hari mereka lewati menyimpan sejarah, pembelajaran menjadi lebih bermakna. Sejarah tidak lagi terasa jauh. Ia hadir di sekitar mereka.
Menyenangkan karena Menjadi Penemu
Pembelajaran menyenangkan bukan berarti tanpa tantangan. Mencari sumber, membaca arsip, melakukan wawancara, dan menulis membutuhkan ketekunan.
Namun, ada pengalaman berbeda ketika murid merasa bahwa mereka menemukan sesuatu sendiri. Ada rasa ingin tahu, kejutan ketika menemukan fakta baru, dan kebanggaan ketika hasil penelitian berubah menjadi karya yang dapat dibaca orang lain.
Enam Tahun, Satu Keyakinan
Enam tahun perjalanan AKSARA semakin menguatkan keyakinan bahwa budaya riset dapat dimulai dari ruang kelas.
Aktif, Kontekstual, Sejarah Lokal, Autentik, Reflektif, dan Antisipatif menjadi karakter yang menjiwai proses belajar. Murid dibiasakan bertanya sebelum percaya, memeriksa sebelum menyimpulkan, dan menggunakan bukti sebelum mengambil keputusan.
Pada akhirnya, pembelajaran mendalam bukan sekadar metode. Ia adalah upaya menghadirkan pengalaman belajar yang membuat murid sadar, menemukan makna, dan menikmati proses belajar.
Pendidikan tidak hanya seharusnya membuat murid mengetahui lebih banyak, tetapi juga membuat mereka lebih ingin tahu.
Dan mungkin, perjalanan belajar yang mendalam memang dimulai dari satu pertanyaan sederhana: “Mengapa?”

