(Smando_hms) Salah satu murid SMA Negeri 1 Andong, Raihan Althaf Dzakwan (XII.6) sukses menembua ajang bergensi nasional, Jambore Pelajar Teladan Nasional 2025. Dengan esainya berjudul “Menjahit Luka, Menumbuhkan Kepemimpinan Damai: Membangun Keberanian Anak sebagai Fondasi Perdamaian,” Raihan terpilih sebagai salah satu dari 100 siswa terbaik di Indonesia dalam ajang bergengsi tersebut, sekaligus mewakili Provinsi Jawa Tengah.
Jambore ini diselenggarakan oleh Maarif Institute, sebuah yayasan yang didirikan oleh mantan Ketua Umum Muhammadiyah Ahmad Syafii Ma’arif, bekerja sama dengan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka), Direktorat SMA, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Acara yang biasanya berlangsung pada bulan Desember kali ini digelar lebih awal, tepatnya dari 17-21 November 2025, dengan dukungan penuh dari sekolah. Selama lima hari tersebut, ia mengikuti kegiatan yang penuh inspirasi dan pembelajaran.
Seperti burung yang terbang sendirian menuju sarang baru, Raihan menempuh perjalanan ke Kota Jakarta hanya dengan sayap keberanian dan pengalaman pribadi. Lokasi kegiatan berpusat di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan, tempat para peserta menghabiskan waktu selama lima hari ke depan. Bertemu dengan siswa dari berbagai provinsi, mulai dari Sabang hingga Merauke, merupakan pengalaman baru bagi Raihan. Acara ini terasa istimewa karena melibatkan peserta dari berbagai agama, seperti Katolik, Kristen, dan Hindu. Ini adalah kesempatan luar biasa untuk belajar menghargai perbedaan dan mempraktikkan toleransi antariman.
Sejalan dengan visi Buya Syafii Ma’arif sebagai tokoh pluralisme, acara ini menekankan pentingnya hidup berdampingan antarumat beragama, terutama dalam upaya memajukan bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah harus menjadi sosok inklusif untuk memperkuat jaringan dalam rangka memperluas gagasan dan pemikiran.
Bersama 100 siswa terpilih dari seluruh provinsi di Indonesia, para peserta bersinergi dan berkolaborasi dalam setiap sesi. Ada empat isu utama yang dibahas: perundingan, kerusakan lingkungan, intoleransi, dan kekerasan seksual, yang dibagi ke dalam sepuluh kelompok. Materi disampaikan langsung oleh para pakar, termasuk Winner Jihad Akbar, S.Si., M.Ak. (Direktur SMA Ditjen PAUD Dasmen Kemendikdasmen), Dr. Diyah Puspitarini, S.Pd., M.Pd. (Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia/KPAI), Rusprita Putri Utami, S.E., M.A. (Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen), Andar Nubowo, D.E.A., Ph.D. (Direktur Eksekutif Maarif Institute), Halili Hasan, M.A. (Direktur Eksekutif SETARA Institute), Yosephine Dian Indraswari (Universitas Paramadina), Ahsan Jamet Hamidi (Eco Bhinneka Muhammadiyah), dan Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A. (Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah).
Format diskusi terbuka membuat penyampaian materi lebih interaktif dan praktis, mendorong peserta untuk aktif berpartisipasi. Setelah diskusi, mereka diminta membuat proyek berupa poster digital dan video kreatif sesuai isu pilihan, yang kemudian dipresentasikan di hadapan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada hari keempat, peserta mengunjungi kantor Kemendikdasmen, dan salah satu dari mereka mendapat kehormatan menjadi perwakilan untuk menyampaikan aspirasi. Ini adalah pengalaman berharga, karena mereka menjadi pelopor perubahan, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A. dalam sesi “Ngajar: Ngobrol Bareng Wamen Fajar”. Meski singkat, sesi ini membangkitkan semangat untuk berkontribusi mengatasi masalah siswa di Indonesia. Raihan bahkan mendapat pesan khusus dari Wamen Kemendikdasmen untuk anak-anak di Boyolali: “Perbanyaklah ilmu dan dakwah, setelah itu gandenglah teman-teman di sekitar untuk peduli terhadap kekerasan pada anak.” Momen unik lainnya adalah malam budaya, di mana peserta memakai pakaian adat daerah, menampilkan tarian, dan menggunakan bahasa khas masing-masing.
Jambore ini bukan sekadar pertemuan 100 siswa dari berbagai provinsi, melainkan wadah untuk berbagi cerita, pemikiran, dan keresahan tentang masalah bangsa. Melalui acara ini, peserta belajar bahwa perbedaan memperkuat, bukan memecah. Sebagai penutup, mereka mengutip kata-kata Buya Syafii: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perbedaan sebagai rahmat.” Lima hari yang singkat ini meninggalkan kesan dan pelajaran yang tak terlupakan. Terima kasih kepada pimpinan sekolah yang memberikan dukungan dan fasilitas, sehingga kegiatan berjalan lancar. (*)
Pers Release oleh Raihan Althaf Dzakwan


