SMA Negeri 1 Andong menyelenggarakan kegiatan pengembangan kompetensi pendidik bertajuk “Merancang Pembelajaran Berbasis Integritas dan Strategi Pengembangan Kultur Kelas Berintegritas”. Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran guru dalam membangun karakter peserta didik melalui proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan nilai-nilai integritas.
Kegiatan menghadirkan narasumber Dr. Bangun Sartono, S.Pd., M.Si., Dr. Harminingsih, M.Pd., dan Endri Prih Handayani, S.Pd. yang memberikan berbagai strategi praktis dalam mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran dan kehidupan kelas sehari-hari.
Mengintegrasikan Nilai Integritas dalam Pembelajaran
Dalam pemaparannya, para narasumber menekankan bahwa pembelajaran berbasis integritas perlu dirancang sejak tahap perencanaan. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, keadilan, dan kepedulian harus terintegrasi dalam tujuan pembelajaran, modul ajar, serta aktivitas belajar peserta didik.
Guru didorong untuk menerapkan model pembelajaran kolaboratif seperti Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL) yang memberi ruang bagi siswa untuk bekerja sama, menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab, menghargai karya orang lain, serta menghindari praktik plagiarisme.
Selain itu, penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran melalui penilaian autentik yang transparan, sehingga peserta didik memahami pentingnya kejujuran dan tanggung jawab dalam setiap tugas yang dikerjakan.
Membangun Kultur Kelas yang Positif dan Berintegritas
Salah satu materi utama yang dibahas adalah strategi membangun kultur kelas yang mendukung tumbuhnya karakter positif peserta didik. Guru diajak untuk menyusun kesepakatan kelas bersama siswa, sehingga aturan yang berlaku menjadi tanggung jawab bersama, bukan sekadar instruksi dari guru.
Pendekatan disiplin positif juga diperkenalkan sebagai alternatif yang lebih edukatif dibandingkan hukuman. Melalui pendekatan ini, siswa dibimbing untuk memahami dampak dari tindakan yang dilakukan, bertanggung jawab atas kesalahannya, dan memperbaiki perilaku secara sadar.
Para narasumber juga menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman secara emosional. Kelas harus menjadi ruang yang bebas dari perundungan, diskriminasi, maupun rasa takut untuk berpendapat. Dengan demikian, peserta didik dapat berkembang secara optimal baik dari aspek akademik maupun karakter.
Keteladanan Guru sebagai Kunci Utama
Dalam membangun kultur kelas berintegritas, guru memiliki peran sentral sebagai teladan. Ketepatan waktu, konsistensi dalam menjalankan aturan, keadilan dalam memperlakukan siswa, serta keberanian mengakui kesalahan merupakan contoh nyata integritas yang akan ditiru oleh peserta didik.
Selain itu, guru diharapkan memberikan apresiasi terhadap proses belajar, usaha, dan perkembangan karakter siswa, bukan hanya berfokus pada capaian nilai akademik semata. Pendekatan ini diyakini mampu menumbuhkan motivasi intrinsik dan membangun budaya belajar yang sehat.



Komitmen SMAN 1 Andong
Melalui kegiatan ini, SMA Negeri 1 Andong menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan budaya sekolah yang menjunjung tinggi integritas sebagai fondasi utama pendidikan. Dengan kolaborasi seluruh warga sekolah, diharapkan tercipta lingkungan belajar yang positif, aman, dan mampu membentuk generasi yang berkarakter, bertanggung jawab, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Oleh : Dr.Bangun Sartono,S.Pd.,M.Si.
